

SURABAYA, PSGunika.Net – Tim sepak bola usia dini PSG Unika, kembali menjalani pertandingan Surabaya Legend Soccer (SLS) 2026 Piala Wali Kota U12 di Stadion Gelora 10 Nopember (G10N), Tambaksari, Selasa (26/5). Hasilnya mengalami dua kali kekalahan telak.
Pada pertandingan pertama, melawan ASM Putra, PSG Unika kalah 0-6, Kamis (14/5) lalu. Dan sore ini, kalah 0-4 dari Star Generation.


Meski mengalami kekalahan beruntun, namun secara progres tim baik individual dan kerja sama permainan terjadi peningkatan. Apalagi the Lava Pijar julukan SSB yang latihan di Poltekpel Gununganyar ini diperkuat anak-anak yang jauh di bawah umur lawannya.
“Dari laga pertama lalu, anak-anak PSG Unika memang rata-rata umurnya 10 tahun. Apalagi sore ini bahkan ada bocah 6 tahun,” terang Harun, ofisial tim.


Selain itu, juga diperkuat dua pemain putri, yakni Almira dan Mahveen. Utamanya Almira dua pertandingan sangat bagus mainnya, tidak kalah dengan pemain putra. “Sedang rrrrreez ini baru trial latihan, dan umurnya juga masih 9 tahun. Potensinya ada,” imbuhnya.
Kendala lain, banyak yang izin keluar kota bersama keluarga. Karena bertepatan malam takbiran Hari Raya Idul Adha 1447 H.
“Kami mencatat, ada pemain yang main luar biasa. Meski masih 9 tahun dan 11 tahun. Juga kiper pengganti lumayan bagus mainnya. Ini potensi,” ungkapnya.
Pihaknya juga mengikuti arahan pembina, akan mencoba memanggil para pemain ‘lawas’ yang sesuai strata usianya. “Yang jelas bertahap kita kumpulkan lagi potensi-potensi kami miliki,” tandasnya.
Diketahui, PSG Unika, mendapat undangan ikut pertandingan SLS ini, salah satunya, karena Unika juga menjadi sponsor event. “Di masa mulai pandemi, Unika identik dengan Bajul Ijo dan Persebaya putri. Kali ini harus membentuk tim dari awal mulai level sekolah sepak bola (SSB). Ini menjadi tantangan kami,” tutur Harun.
Selain memanggil pemain lama, yang saat ini futsal, maupun ntah ke mana, Harun, juga akan mengajak PSG Unika sparing, hingga membuat trofeo. “Supaya makin kompak,” pungkasnya.
Alasannya, kompetisi SLS ini merupakan tempat berproses untuk terus belajar dan semakin matang. Harapannya anak-anak tidak down kalah. Karena akan terus diperbaiki kelemahannya. (*)




















