PSGnews

the Lava Pijar

FEATURED SURABAYA

Dukanya Jadi LO di Liga Persebaya, Kalau Wasit Tidak Ada?

Liga Persebaya
BALIK LAYAR: Salah seorang satgas LO di Liga Persebaya, Krisna Dewa (kiri) yang jiuga bertugas memotret wasit sebelum pertandingan. (SG/IST)

SURABAYA, PSGunika.net – Konsistensi Liga Persebaya (dulu: internal Persebaya) dalam membina dan mewadahi menit bertanding talenta muda sepak bola tak diragukan lagi oleh masyarakat penggila bola tanah air. 

Banner PSG Unika Net

Konon Liga Persebaya (LP, red) hanya terhenti saat peristiwa G30S/1965, reformasi 1998, serta Covid-19/2020. Hasil kompetisi ini tidak terhitung lagi berapa jumlah pemain yang disumbangkan untuk ajang kompetisi berjenjang PSSI di atasnya, mulai Piala Soeratin, Liga4, Liga3, Liga2 dan Liga1 Indonesia. Bahkan tim nasional.

Selain itu beberapa tahun terakhir dengan adanya kompetisi EPA bagi peserta Liga1. Maka kompetisi ini juga mengadopsi wadah pertandingan kelompok umur U-14, U-16 dan U-18/senior.

Diakui atau tidak. Surabaya adalah barometer pembinaan sepak bola nasional, sebut saja ibu kotanya sepak bola. Landasannya sederhana, yaitu pemain-pemain yang bermain berasal dari tidak hanya Surabaya. Tetapi juga berasal dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau.

Pemain muda istilahnya, kalau ingin mengukur kemampuan. Ya wajib hukumnya tampil di Liga Persebaya ini. Untuk mengasah mental, menguji skill dan merasakan atmosfer pertandingan yang kompetitif.

Banner PSG Unika Net

Nah, tahukah kita. Bagaimana lika-liku orang-orang di belakang layar. Suksesnya penyelenggaraan kompetisi setiap musimnya. Terutama yang berada di lapangan. Maka sudah sepatutnya juga memberikan apresiasi dari kita semua yang mencintai sepak bola khususnya Liga Persebaya.

Salah satunya petugas LO yang tidak boleh kita kesampingkan peran, fungsi, tugas dan jasanya. Dan kebetulan sekali, oleh karena itu, perlu kiranya menambah wawasan dari sosok yang tidak asing di sisi lapangan. Yakni Krisna Dewa. Atau orang akrab menyapa Pak Krisna.

“Saya di Liga Persebaya sekitar 4 tahunan mulai pertengahan 2022 tepatnya mulai intens mengikuti kepanitiaan liga (LP). Terus Piala Soeratin U-17 juga pernah menjadi LO tim dari Persegres Gresik. Serta menjadi bagian kepanitiaan Soeratin untuk kelompok umur mulai tingkat kelurahan hingga tingkat kota yg nantinya mewakili untuk kota,” terangnya, Senin (3/11/2025) di Lapangan Brigif 2, Sidoarjo.

Kembali ke LP. Krisna membagikan job descriptions-nya, yakni pertama  harus mempersiapkan DSP/FFP tim-tim yang akan bertanding. Serta mencatat nama-nama pemain yang menerima akumulasi kartu. Sehingga tidak mendapatkan izin bermain pada hari itu. Selain itu, juga meminta biaya administrasi sesuai tertera pada kwitansi dari admin LP.

Selanjutnya, dia untuk kelancaran pelaksanaan pertandingan, mempersiapkan sejumlah kelengkapan. Di antaranya, banner (tempelan, red) di papan skor nama-nama tim yang bertanding. Ini perlu mengurutkan terlebih dahulu menurut jadwal pertandingan.

Banner PSG Unika Net

Perlengkapan berikutnya, adalah bola, papan pergantian pemain, rompi, kemudian alat medis (bahkan tandu jika perlu).

Selanjutnya memeriksa perangkat yang bertugas supaya pertandingan dapat terlaksana. Antara lain, MC, wasit, serta petugas medis.

Lainnya, untuk kepanitiaan dalam setiap lapangan, juga berkoordinasi serta memastikan dengan koordinator venue dan petugas lapangan. Lalu penjaga papan skor, anak gawang (ball boy), dan petugas kebersihan serta keamanan.

Tugas yang tampak sepele, memotret perangkat dan dua tim, ini tetapi juga penting. Adalah menyediakan air mineral kemasan untuk perangkat dan panitia, juga tim yang bertanding. “Kalau panitia dan perangkat juga menyediakan konsumsi. Kalau peserta wajib membeli air mineral,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Krisna juga mengungkapkan suka dukanya menjadi LO. “Dukanya apabila terjadi hujan yang menyebabkan lapangan banjir, sehingga pertandingan itu tertunda,” ujarnya.

Berikutnya yang belakangan terjadi, yakni wasit tidak ada atau kekurangan personel. Makanya pertandingan batal. Terus suka lainnya, apabila tim tidak hadir atau pemainnya kurang dari ketentuan PPK Liga Persebaya 

“Dukanya juga, apabila terjadi keributan baik yang bermula dari pemain itu sendiri maupun orang tua pemain yang menonton,” imbuhnya.

Sedangkan, sukanya, lanjut Krisna. Bisa menyaksikan langsung tumbuh kembang atlet mulai kelompok umur sampai kelak menjadi profesional. Membawa nama harum Persebaya umumnya Kota Surabaya. Istilahnya saksi sejarah perjalanan karir pemain.

“Dapat bertemu dengan pelatih-pelatih yang mana dulunya merekalah para legenda-legenda hidup pemain bola di tanah air. Tapi tak kalah menyenangkan, ya tentu saja, kalau ada tim tidak hadir, atau pemainnya kurang. Akhirnya kena WO, sehingga bisa pulang cepat,” tukasnya.

Berkaca dari pengalaman Pak Krisna, akhirnya kita tahu dan memahami. Bahwa kelak para pemain binaan ini sukses dalam karir profesional, akan selalu mengingat ada peran vital LO kayak Krisna Dewa ini dan kawan-kawan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pengurus federasi. Maka mari kita dengan senang hati menjalankan tugas dan fungsi masing-masing dalam menyukseskan pagelaran Liga Persebaya. (har)

Visited 18 times, 1 visit(s) today
Spread the love

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page