

SURABAYA, PSGunika.net – Korps wasit kembali menggelar pertemuan dengan pengurus askot, Kamis malam (23/10/2025) di Lapangan THOR, Surabaya. Pertemuan dihadiri oleh 39 orang terdiri dari 27 wasit dan 12 matchcomm.
Jumlah peserta 39 itu hanya setengah dari wasit dan matchcomm aktif di lingkungan Askot PSSI Surabaya. Sebab sebagian izin tidak hadir karena berbagai kepentingan yang tidak bisa ditinggal.
Tampak juga hadir, Anselmus Komisi Wasit, lalu Exco Wasit Ferrel R Hattu, serta Ketua Askot Roky Maghbal. Dalam rangka silaturahmi, dan membahas dinamika perangkat pertandingan di Surabaya.
Terdapat isu-isu penting terkait terutama perkembangan wasit sepak bola di Kota Pahlawan. Pokok utama adalah menurunnya kapasitas yang wasit asal Surabaya di kasta tertinggi nasional, seperti Liga 1.
Selain itu, juga persoalan rendahnya motivasi wasit muda untuk eksis dan konsisten memimpin turnamen maupun kompetisi yang ada di Surabaya ini. Di mana sangat banyak, tetapi ke belakang terus menurun partisipasinya, itu-itu saja yang berkenan tugas. Terbukti beberapa waktu lalu adanya pembatalan pertandingan, karena tidak adanya wasit.
Ada sejumlah faktor yang mempengaruhi, di antaranya titik jenuh, minimnya honor, dibandingkan dengan sepuluh tahun silam yang inflasi ekonominya tidak gila-gilaan seperti saat ini.
Satu contoh, kalau dulu kompetisi senior sekali mimpin Rp250 ribu, bisa untuk makan seminggu. Kini yang notabene kurang dari itu, tetapi dengan tekanan lebih besar, di mana para pemain sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi, cara bermainnya mirip pemain senior zaman dulu, fisik dan teknik yang bagus.
Artinya, pendapatan segitu kalau sekarang bisa habis sehari, karena kenaikan harga-harga nutrisi dan vitamin. Apalagi kalau kurang dari itu. Sehingga hal ini bisa jadi juga menjadi faktor menurunnya minat bertugas.
Bahkan dari banyak temuan, secara bersamaan wasit ini ada di pertandingan futsal. Maka tak heran muncul nyinyiran, tugas futsal lebih enak, karena nggak kepanasan, waktu lebih pendek, tak jarang penghasilan juga lebih besar.
Seperti di kompetisi sepak bola anak-anak, durasi waktu sudah jauh meningkat daripada dulu. Kemudian juga istilahnya, wasit sering diajak lari, fisik. Sementara kesejahteraan masih di bawah standar, di mana penghasilan ini, selain untuk kebutuhan sehari-hari, juga memenuhi nutrisi dan vitamin wasit.
Hal menarik lainnya, adanya Liga 4 tingkat kabupaten/kota termasuk di Surabaya. Dan ini juga membutuhkan tenaga perangkat pertandingan Askot Surabaya.
Usai pertemuan, Tabrani mantan wasit Liga 1 menyoroti perkembangan wasit terutama yang muda di Surabaya.
Dia menilai, tidak seperti tahun di zamannya sebelum menjadi wasit profesional dulu. Kalau sekarang ini Tabrani amati wasit-wasit muda kurang ada kemauan untuk maju dan berkembang.
“Kalau dulu ada kemauan, mau bertanya dan belajar. Ada mitigasi keinginan meniru seniornya. Dan di Surabaya ini adalah wadahnya tempat latihan. Di mana banyak lapangan dan sarana untuk latihan,” katanya.
Sarjana Hukum ini berpendapat (mohon maaf), bahwa pengurusnya dalam berorganisasi masih ada kekurangan. Bukan secara personal. Dalam hal ini pembinaan dari ketua askot, bagaimana alurnya.
“Misalnya, wasit itu tidak boleh langsung ngomong ke ketua askot. Tapi lewat komwas-nya. Makanya komwas harus memiliki wibawa. Menurut saya, selama ini, aspirasi komisi wasit kurang diperhatikan ketua askot. Makanya langsung ngomong ke ketua askot, japri begitu,” tuturnya.
Terkait saat ini, perwasitan ia merasa tidak hanya di Surabaya, tapi juga di Jawa Timur SDM-nya mengalami kemunduran. Kalau di era dirinya dulu itu SDM-nya banyak, cuma kelemahannya di fisik.
“Tapi saat memimpin di lapangan bagus, seperti pergerakannya, reading the game-nya, memimpin laga-laga yang berat. Kalau sekarang ini banyak yang fisiknya kuat, tetapi kurang motivasi dari senior. Entah dari komisi wasit atau pengurus,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Tabrani mewanti-wanti wasit muda, agar tidak ikut-ikutan mengurusi urusan pengurus. Tapi terus latihan, jogging, belajar membaca permainan. “Jangan terpengaruh hal lain, seperti saya dulu juga begitu. Saya dulu fokus motivasinya bisa wasit Liga 1,” ujarnya.
Terkait performa wasit muda di Surabaya saat ini, kata Tabrani, sebetulnya banyak bibit unggul, tapi banyak hanya menimba ilmu, terus pindah keluar kota. Makanya butuh motivasi pengurus, seperti di eranya dulu, bagaimana rutin mengumpulkan wasit, latihan bersama untuk kebersamaan. Kalau butuh seragam wasit, segera merealisasikan.
“Kumpul kebersamaan kalau tidak bisa setiap minggu, tiap bulan sekali. Seperti contohnya saya tidak kenal wasit yang muda-muda, kecuali yang sering komunikasi,” tukasnya.
Sekali lagi dia menegaskan dan berpesan kepada wasit muda, supaya tetap latihan, menatap ke depan, tidak terpengaruh sekeliling. Bahwa akan menjadi wasit profesional.
“Untuk menjadi wasit handal, harus memiliki fisik, menguasai LOTG, dan reading the game, juga mental. Ini perlu belajar dari senior, kapan melihat asisten, kapan melihat cadangan, bergerak menyamping dan cara menaikkan mental ini perlu belajar dari senior,” tutupnya.
Di bagian lain, Komisi Wasit Anselmus berharap dengan banyaknya pertandingan yang ada di Kota Surabaya. Nantinya bisa menghasilkan wasit-wasit handal untuk men-support persepakbolaan nasional.
Sedangkan, Roky Maghbal Ketua Askot mengungkapkan, bahwa kegiatan berkumpul untuk saling sharing. Saling memberi masukan, mengevaluasi itu mutlak harus sering dilakukan. Tujuannya untuk meningkatkan performa wasit dan matchcomm, tuntutan ini sangat besar.
“Iklim sepak bola itu luar biasa, dalam satu minggu, satu bulan, setahunnya. Kembali lagi masing-masing person wasit, matchcomm itu harus terus meng-upgrade. Kita ini sedang membangun sistem yang baik, terukur. Tujuannya memajukan sepak bola di Surabaya,” terangnya.
Nah, sistem itu, masih Roky, sudah tersusun berdasarkan masukan dari teman-teman. Dan sudah menjalankan. “Tentunya itu belum bisa mencapai ideal sesuai yang kita harapkan. Tetapi progresnya itu sedikit demi sedikit kita berharap malah secepatnya lebih baik,” tuturnya.
Dia menegaskan soal pertemuan akan rutin dan wajib melakukan ke tahapan berikutnya. Sebab sampai hari ini masih membahas hal-hal teknis. “Next kita membahas bagaimana meningkatkan performa atau kualitas itu,” tegas Roky.
Sementara terkait adanya Liga 4, dia menjelaskan, kalau ini sebagai salah satu kegiatan baru di tingkat Kota Surabaya. “Intinya kita punya keinginan besar. Saat ini wasit yang memimpin di tingkat nasional sangat minim dengan potensi besar Surabaya itu keprihatinan besar. Makanya semua harus punya semangat ke sana,” pungkasnya. (kaf/red)



































