PSGnews

the Lava Pijar

NASIONAL TRENDING

Pendiri BLiSPI Teguh Raharjo: Selaraskan Sekolah dan Sepak Bola

Pendiri BLiSPI Teguh Raharjo
TURNAMEN: Pendiri BLiSPI Teguh Raharjo. (SG/HARUN)

SIDOARJO (SG) – Pendiri Teguh Raharjo menyebut BLiSPI paling konsisten menggelar turnamen sepak bola usia dini di Indonesia. Sehingga banyak melahirkan para pemain nasional. Dan meskipun sempat terhenti karena pandemi, kini kembali hadir berganti turnamen BLiSPI Youth Cup IV 2025.

Banner PSG Unika Net

Berikut penuturan pendiri BLiSPI, Teguh Raharjo. Dia menceritakan latar belakang tahun 2014/15 – 2019 menerima amanah Asisten Deputi Kemepora berupa even sepak bola Piala Menpora di seluruh Indonesia.

“Pesertanya di awal hampir 5.000 tim seluruh Indonesia. Kemudian teman-teman dari seluruh Indonesia punya inisiasi, kemudian kami fasilitasi membentuk BLiSPI,” katanya, Jumat pagi (14/11) di sela opening youth cup di Stadion Jenggolo.

Lebih jauh, Teguh menjelaskan harapan visi misinya. Pertama bagaimana bisa membina anak-anak usia dini untuk ke depannya menjadi pemain timnas Indonesia. Kedua, juga menjadi pemain sepak bola yang punya karakter. Punya semangat tinggi, kejujuran dan tidak sombong. Dan punya manajerial yang bagus.

“Sehingga kita harapkan anak-anak ini menjadi pemain yang bagus dan berkarakter, juga memiliki pendidikan yang cukup. Supaya masa depannya bisa mengembangkan olahraga. Ini seiring dengan Perpres Percepatan Pengembangan Sepak bola Indonesia,” jelasnya.

Banner PSG Unika Net

Teguh mengaku sebagai salah satu orang yang turut menggodok perpres itu. Makanya, dia sangat bersyukur dengan mendirikan BLiSPI ini sampai sekarang masih konsisten.

Sebab banyak SSB maupun kegiatan semacam ini, tetapi tidak konsisten. “Alhamdulillah BLiSPI sampai saat ini konsisten memberikan kontribusi PSSI kepada negara mewakili Indonesia sebagai timnas pelajar,” ucapnya.

Sementara soal pemerataan keilmuan dan wawasan perkembangan sepak bola (modern, red), BLiSPI selalu konsisten melibatkan semua lapisan. Baik pelatih maupun pengurus di seluruh Indonesia untuk mengundang kegiatan seperti ini memberikan edukasi.

“Termasuk memberikan informasi regulasi-regulasi yang terbaru. Bagaimana sepak bola ke depan,” jelas Teguh.

Pihaknya, juga konsisten membuat kompetisi mulai tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga nasional. Dan ada tim talent scouting untuk menjaring yang terbaik. Karena sekitar April akan mengirim ke Roma, Italia.

Banner PSG Unika Net

Tantangan ke depan di tengah gencarnya pemain naturalisasi. Ia mengimbau kepada pembina olahraga sepak bola, kalau ini tidak bisa parsial. Tapi harus berjenjang. Karena dari jenjang kompetisi inilah kita siapkan sebanyak mungkin bibit atlet yang bagus, untuk mendukung timnas. Bahwa Piala Dunia tidak harus impor dari naturalisasi. Karena dari Indonesia itu banyak.

“Masak 280 juta tidak bisa? Tergantung dari komitmen untuk konsisten bekerja keras, dan punya semangat. Kejujuran jangan ada dusta lagi di antara kita. Kita budayakan seperti itu,” tanya Teguh.

Untuk itu, dia mengajak teman-temannya mulai pemain, pelatih, bahkan orang tua, termasuk wasit, ayo kita berlomba-lomba dalam kejujuran. Kita niatkan ini ibadah, terbaik untuk anak-anak bangsa. Itu dasarnya di situ. Makanya Teguh yakin sepak bola Indonesia ke depan lebih cemerlang.

“Kalau kita bergantung kepada pemerintah itu anggarannya terbatas. Sehingga butuh partisipasi semua pihak. Dan alhamdulillah BLiSPI mandiri semua peserta. Makanya ini perlu kita apresiasi, tetapi pemerintah harus hadir memberikan support berupa fasilitas,” bebernya.

Tak lupa, ia juga apresiasi kepada tuan rumah Sidoarjo, yang luar biasa welcome, bekerja sama dengan BLiSPI untuk memajukan sepak bola Indonesia.

“Kalau pandangan sepak bola dengan dunia pendidikan di Indonesia sangat bisa selaras. Saya buktikan ketika mengelola SKO Ragunan itu ada Egy, Witan dan ribuan lainnya. Termasuk PPLP di seluruh Indonesia di Jawa Timur itu banyak,” ungkapnya.

Perlu diketahui hasil final Sea Games itu hampir 60 persen dari PPLP. “Dia sekolah harus berjalan, karena kebutuhan, walaupun kita tahu orang-orang berprestasi itu sekolahnya tidak hebat, tapi harus pendidikan. Sebab ketika dia sudah tidak menjadi atlet lagi bisa melanjutkan kehidupannya,” tuturnya.

Karena itu, bagi sekolah umum seyogyanya juga bisa memberikan dispensasi kepada siswa berprestasi di sepak bola. Apa lagi teknologi saat ini sudah maju bisa belajar secara online.

“Artinya sekolah harus support. Tidak harus SKO, tetapi sekolah umum bisa membuat kelas khusus olahraga (KKO). Saya sebagai Ketua KONI DIY, kita bekerja sama dengan stakeholder, termasuk sekolahan. Kita berikan rekomendasi kepada siswa atlet berprestasi untuk bisa memilih kuliah, seperti di UNY. Bahkan pernah juga kerja.  sama dengan UNJ Jakarta kita kuliahkan gratis pemain-pemain terbaik,” urainya.

Selanjutnya, Teguh mengatakan, dari sekolah ini setelah menjadi pemain, ia berharap kelak juga bisa menjadi pelatih sepak bola. “Pesan untuk sekolah yang masih kurang fleksibel memperlakukan atlet. kalau dari pengalaman saya, dulu kerja sama dengan dinas pendidikan. Kepala sekolahnya pindah saja!,” tegas Teguh.

Alasannya sederhana saja. Karena anak-anak atlet ini, bukannya dia tidak displin. Tetapi mereka sangat disiplin, sebab kalau tidak, mana mungkin mereka berprestasi. Tetapi hanya saja mereka punya pilihan. 

“Tidak mudah mencari anak-anak berprestasi ini. Karena dia akan bisa membawa nama baik Indonesia, merah putih. Tapi memang harus mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk dibantu,” tandasnya. (har)

Visited 65 times, 1 visit(s) today
Spread the love

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page