PSGnews

the Lava Pijar

MANCANEGARA TAJUK

Getol Ajak-ajak Pemain ke Thailand, Romanus Tuai Cibiran?

Romanus
Coach Romanus kembali kedua kalinya memberikan coaching buat anak-anak PSG Surabaya. (SG/HARUN)

PSGunika.Net – Pria kelahiran NTT, Romanus Seran Bria, belakangan trending berkat sepak terjangnya mengajak pesepak bola muda Indonesia trial ke sejumlah klub liga juga akademi di Thailand hingga ke Jepang. Bahkan tidak sedikit yang berbalik mencibirnya, karena gagal berangkat. Sehingga timbul simpang siur informasi. Sampai nama baiknya terjun bebas.

Banner PSG Unika Net

Mungkin buat Coach Romanus, ucap saja. Tiada gading yang tak retak. Tetapi kalau bisa jangan banyak-banyak retaknya. Begitu kira-kira pepatah kunonya.

Namun sebelum membahas cibiran atau nyinyiran. Romanus berkenan membagikan terlebih dahulu tips bagaimana adaptasi. Terutama bagi pemain muda yang ingin berkarir profesional di luar negeri, seperti Thailand.

“Agar cepat adaptasi. Maka sebelum berangkat bisa melatih untuk tidur di rumah teman atau mess klub. Kemudian mengurangi telepon seminggu sekali. Rasa kangen itu tak terlepas, karena orang tua setiap hari kumpul. Setiap berangkat itu pasti ada rasa kangennya,” tutur Romanus, Minggu siang (30/11/2025) di Gununganyar, Surabaya.

Menurutnya, setiap kali membawa anak-anak ke Thailand itu pasti ada rasa kangen. Tetapi kalau sudah bergabung dengan tim dan berbaur dengan teman-teman baru itu sudah merasa enjoy. Dan mulai mengurangi perasaan kangen.

Banner PSG Unika Net

Oleh karena itu, guna mengatasi kangen kampung halaman itu juga bisa dengan mengajak wisata naik bus rame-rame. Kemudian balik apartemen lantas capek dan tidur, pasti lama-lama kangennya berkurang. 

“Saya sering membawa pemain itu sebelum berangkat saja sudah menangis. Makanya sesampainya di sana (Thailand,red) bagaimana saya itu membuat anak-anak bergembira. Untuk mengurangi rasa kangen sama orang tua,” jelasnya usai coaching SSB PSG Soccer School.

Menyinggung toleransi umat beragama di Thailand Romanus mengatakan sangat welcome. Ketika ada latihan, karena mereka tidak ada shalat Magrib, dan sebagainya. Dan itu loss. 

“Tetapi dari saya, harus membatasi pada saat jam shalat lima waktu. Anak-anak (Indonesia muslim,red) sering melakukan itu. Walaupun masih ada latihan, tetapi saya minta izin untuk anak-anak bisa shalat dulu. Dan itu tidak masalah,” katanya.

Selanjutnya soal makanan juga ada makanan muslim. Karena banyak orang muslim. Tetapi kebanyakan penjualnya non muslim, makanya kalau jualan makanan meski memisah makanan halal dan tidak. Tetapi satu rombong. 

Banner PSG Unika Net

Nah, ini khawatirnya minyaknya bercampur, makanya saya sangat menganjurkan anak-anak bisa memasak sendiri di apartemen. Karenanya sebelum mereka berangkat itu sudah melatih diri untuk bisa memasak di rumah begitu,” ujarnya.

Artinya, Romanus saat membawa para pemain muda dari Indonesia ini, juga tidak lepas tangan begitu saja. Tetapi mempersiapkan sedemikian rupa, seperti soal makanan dan ibadah. 

“Ketika para orang tua itu mempercayakan anak-anaknya kepada saya. Mulai 2018 itu, saya menjaga anak-anak secara ketat. Bahkan mungkin dalam mendidik pun saya lebih ketat. Karena kita di negara orang lain, maka kita menjaga dari hal-hal negatif ya. Misalnya mengingatkan shalat anak-anak. Kalau tidak shalat saya marah, karena itu wajib lima waktu. Dan kalau Jumatan itu saya antar ke pusat kota. Supaya orang tua juga merasa tenang menitipkan anak-anak mereka,” bebernya.

Terkait nyinyiran akibat dugaan gagal berangkat. Romanus menjelaskan bahwa kalau ada wanprestasi. Akibat gagalnya komitmen awal orang tua sendiri. 

“Misalnya perjanjiannya berbayar ya memang harus bayar. Contohnya di awal baru setengahnya. Nah sering terjadi karena hasutan sana-sini, akhirnya tidak membayar, atau menunda-nunda. Makanya kapanpun melunasi, maka saat itu juga bisa pemberangkatan,” ungkapnya.

Alasannya, di sana (Thailand,red), Romanus harus menyiapkan apartemen tinggal, membayar biaya trial ke akademi. Sehingga kalau anak-anak yang tidak ada sponsor, mau tidak mau, biaya sendiri dari orang tua.

“Intinya adalah komitmen awal. Kalau A ya A, kalau B ya B. Kenapa menarik untuk mendalami sepak bola di akademi yang ada di Thailand. Karena mencari prestasi, sebab ketika mereka (klub,red) melihat anak-anak Indonesia ini saat trial mampu melakukan permainan sepak bola modern. Mereka melihat mental dan sebagainya itu bagus. Maka mereka juga akan menaungi secara finansial, termasuk pemain bisa mendapatkan beasiswa, dan menawarkan sekolah,” urainya.

Bukan sekedar trial biasa. Tetapi kita ke sana (Thailand,red) ini sebenarnya seleksi kalau di sini (Indonesia,red), lanjut Romanus. 

“Tapi saya tidak menyebut seleksi, karena kesannya kok ketinggian. Sehingga kalau trial ini kan latihan bersama. Namun kalau terlihat bagus, ya bisa mendapatkan kontrak permanen. Kalau statistik pemain di angka 75% pasti menerima kontrak profesional. Terus kurangnya tinggal meningkatkan saat latihan,” imbuhnya.

Romanus menegaskan, pertama anak-anak disiplin waktu. Kemudian sepak bola dengan hati. Atau tidak terburu-buru. Lambat tapi pasti. “Saya tanamkan ke anak-anak disiplin waktu. Attitude-nya, teknik dasar bolanya ok. Itu pasti diambil. Contohnya ada anak Papua sudah dua kali pulang-pergi Thailand,” terangnya.

Tak hanya itu, bahkan saat ini, anak Papua itu sudah menerima uang saku. Berbeda saat kali pertama datang ikut trial, biaya mandiri, dan tidak ada uang kontrak.

“Berbeda contohnya deRossi (pemain Sasana Bhakti, red). Ini dia berangkat enak, karena langsung berangkat dan mendapat uang bulanan untuk biaya hidup di Thailand nantinya,” ucapnya.

Romanus menambahkan, ketika deRossi tiba di Thailand dapat uang saku untuk belanja keperluan. Selain akomodasi, makan juga minum, dan lain sebagainya. Jadi komitmen awal dengan pihak Thailand seperti itu, imbuhnya.

Karena mulai 2025 ini. Anak-anak yang berangkat ke Thailand itu mendapat uang saku selama trial. Makanya harus selektif, tidak asal membayar, timpal Romanus.

“Anak-anak seperti deRossi ini. Saya sudah melihat skill-nya lewat tayangan (live streaming,red) Liga Persebaya membela tim Sakti. Melihat videonya, saya mengakui kalau deRossi ini mempunyai prestasi membela tim Semut Hitam (final Liga 4 Piala Wali Kota Surabaya,red),” tandasnya.

Itulah kenapa, sebut Romanus, deRossi langsung mendapatkan uang saku. Karena prestasinya. Kalau tidak prestasi, kadang pelatih-pelatih titip itu belum tahu kualitasnya. 

“Makanya mereka berangkat itu finansial sendiri. Kalau deRossi tidak, karena prestasinya itu. Pemain yang dapat. Bukan pemain yang bayar,” tukasnya.

Berikutnya masalah imigrasi soal izin. Kalau welcome karena tidak pernah ada masalah sebelumnya apalagi kriminal. Sehingga namanya di imigrasi terjaga dengan baik.

“Ketika anak-anak Indonesia ke Thailand itu mereka selalu saya kabari. Sebelum berangkat saya sudah info ke kedutaan (KBRI,red). Bahwa anak-anak akan trial dan tinggal di sini. Terus mereka menyarankan untuk menjaga anak-anak. Karena ini negara orang. Kedutaan bahkan meminta anak-anak tidak keluar malam,” paparnya.

Pihak KBRI ada perhatian, dan selalu meng-cover. Kalau ada apa-apa mereka selalu campur tangan, ikut menaungi. Sehingga hal ini cukup menepis tuduhan dugaan perdagangan anak yang acapkali dialamatkan kepadanya. Yang belakangan muncul di media sosial.

“Contohnya masalah tiket harus pulang-pergi. Karena kalau tidak, maka di imigrasi bandara Bangkok, maupun Soekarno Hatta atau di Juanda itu pasti cek dulu. Kalau tidak ada tiket pulang-pergi, pasti tidak boleh berangkat,” kata Romanus.

Selain itu, juga melihat background orang yang membawa siapa. “Sudah banyak contoh tim sepak bola dari Indonesia sampai di Thailand ternyata belum punya tiket pulangnya. Akhirnya terlantar. Dan meminta bantuan KBRI, tetapi juga ditolak. Karena menyalahi prosedur,” pungkasnya.

Ini mungkin baru sedikit cerita dari Thailand. Konon, Romanus masih menyimpan kisah juga di Jepang. Negara yang terus mengalami kemajuan sepak bola modern. Patutkah kita berikan sekali lagi kesempatan pria yang baru saja menerima jabatan pelatih Liga 4 Jatim, PSHW Ponorogo ini? (Harun)

Visited 52 times, 1 visit(s) today
Spread the love

Table of Contents

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page