
SURABAYA, PSGunika.Net – Datang dan pergi begitu lah siklus wajar yang juga terjadi di sekolah sepak bola dan futsal SSB PSG Soccer School. Hal ini terlihat pada latihan reguler Sabtu sore (3/10/3026) di lapangan kampus Poltekpel Gununganyar, Surabaya, Jawa Timur.
Pada kesempatan itu, tampak hadir sejumlah siswa baru PSG Soccer School. Namun juga mulai jarang terlihat murid lama bahkan non-aktif. Beragam alasan mulai kesibukan menatap ujian akhir sekolah, ganti cabang olahraga hingga pindah SSB.
Catatan khusus yang disebut pindah SSB, ada dua hal unik. Pertama bagi yang detail dalam prinsip ekonomi, teliti memperhatikan, antara hobi/kebahagiaan anak-anak, atau mementingkan keperluan lain, yang lebih mendesak? Akhirnya berlabuh ke SSB dengan iuran senilai harga MBG.
Tetapi yang kedua, bagi orang tua yang masih dikelilingi aset-aset aktif, usaha produktif maupun pekerjaan mapan, tak segan-segan memindahkan ke akademi bola yang tampilan luarnya modern. Dan kini mulai menjamur seiring geliat kompetisi EPA.
Tidak ada yang salah, karena sepenuhnya menjadi hak intern masing-masing. Namun catatan penting tetap lah kebahagiaan anak hendaknya menjadi skala prioritas.
Hasil pengamatan di lapangan yang terjadi, bahwa SSB yang diselenggarakan dengan iuran senilai MBG tersebut, pada umumnya minim akses, karena keterbatasan kompetensi pelatih maupun pengurus. Akibatnya, kurikulum sering ketinggalan, dan orang tua juga kurang siap manakala mengikuti turnamen berbayar.
Sementara yang ‘jor-joran’ tergoda marketing akademi bola modern, titik lemahnya, yang diduga disamarkan, satu tapi vital. Yakni, anak-anak mendapatkan pengalaman yang kurang kompetitif. Konsep latihan, kompetensi pelatih optimal wajar sepadan biaya fantastis.
Sehingga yang satu kelemahannya adalah full support finansial, sedangkan yang satunya, karena keterbatasan waktu, meski keuangan kuat, hasilnya kemampuan anak-anak kurang kompetitif. Risiko dari keduanya adalah, sepak bola kesulitan menemukan 11 pemain terbaik.
Singkat kata, ada anak-anak yang dengan bakat luar biasa, tetapi dukungan finansial minim. Tetapi ada yang telantanya biasa saja, namun dengan keuangan full power. Dan sejak era EPA mencuat, tidak sedikit unggahan miring yang mengisi kolom sosial media, yakni anak-anak yang lolos seleksi, urung karena tidak adanya biaya. Sementara yang biasa saja bahkan masuk starting line up berkat kuatnya finansial.
Berangkat dari dinamika yang terjadi, selanjutnya PSG Soccer School hadir di tengah-tengah nya, menjawab tantangan. Di mana soal biaya relatif terjangkau. Namun dengan konsep latihan dan fasilitas lapangan standar/modern, kemudian di bawah asuhan pelatih berpengalaman serta mengantongi lisensi kepelatihan resmi.
Tak hanya itu, anak-anak yang berbakat luar biasa, juga berkesempatan mendapatkan keringanan biaya, bahkan gratis sekali pun. Tetapi dengan catatan rajin mengikuti sesi latihan dan turnamen. Karena idealnya seminggu latihan rutin tiga kali. Jadi tidak ada alasan lagi soal biaya.
Menurut Coach Romadhon Pelatih PSG Soccer School, kekurangan yang ikut akademi biasanya, kurang kompetitif. “Mungkin saat latihan dia bagus, tapi begitu keluar bertanding sama anak-anak klub, pasti kesulitan,” katanya.
Sedangkan yang ikut SSB biasa, sambung pelatih di kompetisi Liga Persebaya ini, bahwa kebanyakan pelatihnya kurang pengalaman. “Jadinya anak-anak kesulitan berkembang karena pola latihan tidak mengikuti perkembangan sepak bola,” timpalnya.
Terpisah, Harun Effendy, pengurus harian PSG Soccer School menegaskan bahwa pihaknya dalam mengelola SSB dan futsal detail mempertimbangkan effort anak dan orang tua.
“Soal pelatih tak terbantahkan, lalu juga anak-anak kita kasih wadah latihan seminggu tiga kali. Tapi kebanyakan karena sekolah nya full day school jadinya Sabtu sore hadir banyak. Di luar itu, mereka yang sungguh-sungguh dan niat menambah latihan fisik/privat, sehingga kemampuannya meningkat dan siap turun di kompetisi anak-anak,” jelasnya.
Soal akses jaringan, PSG Soccer School siap memfasilitasi anak-anak baik yang fokus sepak bola maupun futsal. Sama-sama bisa tampil/seleksi di kompetisi resmi yang diselenggarakan oleh PSSI maupun AFK/futsal di Kota Surabaya khususnya.
“Bagi yang betul-betul fokus bola, PSG juga kerja sama dengan sekolah homeschooling sehingga anak-anak sekolah daring atau tatap muka, yang ditentukan mandiri,” bebernya.
Selain itu, PSG Soccer School juga membuka peluang membentuk satu tim solid, untuk melakukan sport tourism kunjungan ke SSB/klub/akademi di luar negeri. “Tahun lalu, salah satu ikon PSG melakukan trial ke sejumlah klub di Bangkok Thailand, karena itu undangan dari luar negeri juga sering kami terima,” tukas pria yang ikut menyaksikan langsung tim Jawa Timur juara PON di Aceh 2024 lalu. (*)







